Lenong “Lela Oh Lela” Meriahkan RAKERNAS LSB PP Muhammadiyah 2026 Dakwah Berkemajuan Dikemas Lewat Seni Budaya Betawi

Lenong “Lela Oh Lela” Meriahkan RAKERNAS LSB PP Muhammadiyah 2026 Dakwah Berkemajuan Dikemas Lewat Seni Budaya Betawi

Jakarta – Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta mempersembahkan pagelaran Drama Komedi Betawi “Lela Oh Lela” dalam rangka Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026) pukul 19.30–21.30 WIB ini menjadi salah satu agenda budaya yang mendapat sambutan hangat dan antusias luar biasa dari para peserta Rakernas maupun tamu undangan.

Mengusung tema “Membumikan Dakwah Berkemajuan Mengembangkan Ekosistem Seni Budaya yang Kreatif dan Inklusif”, pertunjukan ini menjadi bukti nyata bahwa seni budaya dapat menjadi media dakwah yang santun, menghibur, sekaligus sarat dengan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Acara dipandu secara profesional oleh Dr. Nurlina Rahman, S.Pd., M.Si., yang dikenal sebagai pewara (Master of Ceremony) profesional. Selain itu, beliau juga menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya PWM DKI Jakarta serta Wakil Ketua APEBSKID (Afiliasi Pengajar, Peneliti, Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni, dan Desain) Komisariat DKI Jakarta periode 2024–2028. Dengan gaya pembawaan yang komunikatif dan hangat, Dr. Nurlina berhasil membangun suasana yang penuh semangat sejak awal hingga akhir acara.

Sebelum pertunjukan utama dimulai, para tamu disuguhkan penampilan Tari Zapin Muhammadiyah, sebuah karya orisinal LSB PWM DKI Jakarta yang telah memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Tarian tersebut merupakan hasil kolaborasi para seniman Muhammadiyah, dengan lagu ciptaan Prof. Agus Suradika dan syair karya Prof. Imam S. Bumiayu.

Suasana semakin semarak dengan penampilan grup musik GOES PLUS pimpinan Prof. Agus Suradika, yang juga Wakil Ketua Pimpinan Pusat LSB Muhammadiyah serta termasuk dalam jajaran 13 Pimpinan PWM DKI Jakarta yang membina LSB PWM DKI Jakarta.

Tidak hanya itu, penonton juga disuguhkan atraksi memukau dari Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang menampilkan seni bela diri khas Muhammadiyah serta penampilan Tari Betawi “Jingkrak Manis” dari Sanggar Batavia, sanggar binaan LSB PWM DKI Jakarta yang menambah nuansa budaya Betawi dalam malam pementasan tersebut.

Dalam sambutannya, Prof. Irwan Akib mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya seni sebagai bagian dari dakwah Muhammadiyah sekaligus ruang pengembangan bakat generasi muda. “Alhamdulillah kita bersyukur bisa melanjutkan kegiatan kita. Oleh karena itu saya ingin memesankan, mungkin sudah saatnya di sekolah-sekolah Muhammadiyah ada sekolah khusus seni. Anak-anak kita memiliki banyak bakat dan minat, namun belum tersalurkan secara maksimal. Anak Indonesia hebat itu akan menjadi lebih hebat ketika mampu bersatu melalui seni” ujarnya.

Pesan tersebut mendapat sambutan dan tepuk tangan meriah dari seluruh peserta yang hadir.

“Lela Oh Lela”, Lenong Sarat Pesan Moral dan Dakwah. Puncak acara diisi dengan pementasan Lenong Betawi “Lela Oh Lela” yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Prof. Imam S. Bumiayu yang juga merupakan Ketua LSB PWM DKI Jakarta. Lenong “Lela Oh Lela” merupakan persembahan dari LSB PWM DKI Jakarta.

Produksi pertunjukan dikelola oleh Dr. Lelly Qodariah, M.Pd. selaku Manager Produksi, yang berhasil menghadirkan pertunjukan dengan tata artistik, musik, dan alur cerita yang menarik.
Tokoh utama Lela diperankan dengan apik oleh Gina Sheilla, yang berhasil membawakan karakter perempuan Betawi dengan penuh penghayatan, sementara tokoh Babeh Lela diperankan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.

Penampilan Prof. Abdul Mu’ti menjadi kejutan terbesar malam itu. Meski beliau mengaku belum pernah menjalani latihan secara khusus, kemampuannya berimprovisasi di atas panggung justru berhasil mencairkan suasana. Dialog-dialog spontan yang disampaikan membuat seluruh penonton larut dalam gelak tawa.

Berkali-kali tepuk tangan dan riuh tawa memenuhi Teater Besar Taman Ismail Marzuki. Momen tersebut menjadi bukti bahwa seni pertunjukan mampu menyampaikan pesan dakwah dengan cara yang ringan, dekat, dan menghibur.

Tak sedikit penonton yang berkomentar, “Kapan lagi seorang Menteri bermain lenong?” Penampilan Prof. Abdul Mu’ti menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa pejabat negara juga dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat melalui seni budaya.

Selama kurang lebih satu jam pementasan berlangsung, suasana teater dipenuhi gelak tawa, tepuk tangan, dan sorak apresiasi dari para peserta Rakernas maupun tamu undangan. Hampir setiap adegan komedi berhasil mengundang reaksi spontan dari penonton.
Banyak peserta mengaku terhibur sekaligus mendapatkan pesan moral mengenai pentingnya menjaga budaya lokal sebagai media dakwah yang inklusif.

Testimoni Peserta

Bagas, salah satu penonton mengungkapkan bahwa pementasan tersebut sangat menghibur. “Seru sekali. Saya tidak menyangka lenong bisa dikemas sekeren ini. Banyak pesan moral yang disampaikan, tetapi tetap lucu. Apalagi ketika Pak Menteri ikut bermain, suasananya langsung pecah. Semua penonton tertawa bersama. Ini pengalaman yang sangat berkesan”
Sementara itu, Ayu, peserta lainnya, mengaku sangat menikmati jalannya pertunjukan.
“Saya benar-benar terhibur. Ceritanya ringan, lucu, tetapi penuh makna. Yang paling berkesan tentu ketika Prof. Abdul Mu’ti bermain sebagai Babeh Lela. Beliau sangat natural meskipun katanya tidak latihan. Penonton dibuat tertawa tanpa henti. Semoga pertunjukan seperti ini semakin sering diadakan”
Pementasan “Lela Oh Lela” menjadi salah satu bukti nyata komitmen Muhammadiyah dalam membumikan dakwah melalui pendekatan seni dan budaya. Melalui pertunjukan yang kreatif, inklusif, dan menghibur, Muhammadiyah menunjukkan bahwa seni bukan hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga media efektif dalam menyampaikan nilai-nilai Islam yang mencerahkan.

Kolaborasi antara seniman, akademisi, tokoh Muhammadiyah, hingga pejabat negara dalam satu panggung menjadi simbol kuat bahwa pelestarian budaya lokal dapat berjalan seiring dengan semangat dakwah berkemajuan.

Diharapkan, kegiatan seperti ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi lahirnya ekosistem seni budaya Muhammadiyah yang semakin maju, profesional, dan mampu melahirkan generasi muda yang kreatif, berkarakter, serta cinta terhadap budaya bangsa.
Penulis: Adna Fika Ardelia

TAGS
Share This

COMMENTS