Dorong Penguatan Karakter di Sekolah, IPPRISIA Kaltim Audiensi dengan Kadisdik Samarinda

Dorong Penguatan Karakter di Sekolah, IPPRISIA Kaltim Audiensi dengan Kadisdik Samarinda

Samarinda — Ikatan Penata Persona Indonesia (IPPRISIA) Kalimantan Timur mendorong penguatan karakter peserta didik melalui kolaborasi lintas sektor dengan satuan pendidikan di Kota Samarinda. Dorongan tersebut disampaikan dalam audiensi bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda, Asli Nuryadin, yang digelar Jumat, 20 Februari 2026.

Audiensi dipimpin langsung Ketua IPPRISIA Kalimantan Timur, Marliana Wahyuningrum, sebagai bagian dari upaya memperkuat peran relawan pendamping dalam dunia pendidikan, khususnya sebagai support system bagi sekolah formal, Sekolah Rakyat, kelompok rentan, penyintas kekerasan, hingga anak-anak panti asuhan.

Marliana menyampaikan bahwa IPPRISIA hadir bukan untuk mengambil alih peran sekolah, melainkan mendukung dan melengkapi satuan pendidikan melalui penguatan karakter peserta didik dan pendampingan tenaga pendidik.

“Kasus perundungan, kekerasan anak, dan berbagai persoalan sosial di sekolah menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada akademik. Penguatan karakter, mental, dan kebiasaan hidup sehat menjadi kebutuhan mendesak. Karena itu kami hadir sebagai relawan pendamping,” ujar Marliana.

Ia menjelaskan, IPPRISIA telah dan akan mendorong kerja sama formal melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), agar pendampingan dapat dilakukan secara legal, terstruktur, dan berkelanjutan di sekolah-sekolah, mulai dari PAUD, SD, hingga SMP, termasuk Sekolah Rakyat.

Dalam audiensi tersebut, Marliana juga memperkenalkan Program SAPA (Sahabat Aksi Peduli Anak) sebagai wadah relawan lintas bidang—pendidikan, kesehatan, ekonomi, UMKM, dan pemberdayaan masyarakat—yang berperan sebagai sahabat bagi satuan pendidikan dan anak-anak.

“Melalui SAPA, kami ingin hadir sebagai pendamping yang humanis. Terutama di Sekolah Rakyat, di mana anak-anak dari latar belakang keterbatasan harus beradaptasi dengan lingkungan baru, kebiasaan hidup sehat, kerapian, dan pola hidup berasrama,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda, Asli Nuryadin, menyambut baik inisiatif kolaborasi tersebut. Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak dapat diselesaikan oleh sekolah semata, mengingat kompleksitas persoalan sosial dan keterbatasan sumber daya di lapangan.

“Tidak ada guru atau kepala sekolah yang ingin anak didiknya celaka. Namun tekanan terhadap sekolah saat ini sangat besar. Karena itu pendampingan dari mitra seperti ini sangat membantu,” ujarnya.

Asli menekankan bahwa pembentukan karakter anak sebagian besar justru terjadi di rumah dan lingkungan sosial. Sekolah, menurutnya, hanya memberi sebagian dari proses pendidikan secara keseluruhan.

“Kalau kita berpikir pendidikan selesai di sekolah, itu keliru. Tanpa kolaborasi antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan relawan, pendidikan tidak akan berhasil,” tegasnya.

Terkait Sekolah Rakyat, Asli menjelaskan bahwa program tersebut merupakan inisiatif strategis pemerintah pusat yang dikelola di bawah Kementerian Sosial dengan dukungan pemerintah daerah. Program ini memberikan fasilitas pendidikan berstandar tinggi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Ia berharap rencana penandatanganan MoU antara Dinas Pendidikan dan IPPRISIA dapat segera direalisasikan agar kerja kolaboratif, khususnya melalui Program SAPA, dapat segera berjalan.

“Masalah pendidikan tidak berkurang, tetapi semakin kompleks. Karena itu, kepedulian dan kolaborasi seperti ini harus kita fasilitasi dan perkuat,” pungkasnya. 

TAGS
Share This

COMMENTS